Black Magic (Re-upload)




Langit masih gelap, padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Memang sudah hampir satu bulan lamanya, sang mentari tidak menampakkan diri di bumi. Para peneliti dari berbagai belahan dunia terus mencari tahu alasan dibalik semua ini. Namun hasilnya nihil. Kian hari kian tak masuk akal. Tumbuh-tumbuhan banyak yang mati karena tidak dapat melangsungkan proses fotosintesis. Banyak hewan ternak yang menghilang bagai ditelan bumi. Di depan gedung pemerintah, warga berdatangan untuk unjuk rasa dan mempertanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Apakah kiamat akan tiba? Semua orang begitu panik dan resah.

Di sisi lain, seorang remaja perempuan—Reina, tengah sibuk dengan selembar kertas yang bertuliskan "whislist".

"Membeli dua porsi pizza untuk dimakan sendiri, selesai" ucapnya sembari memberikan tanda centang di kertas whislist-nya.

Reina tampak tenang dengan apa yang sedang terjadi di dunia ini. Sehari-hari dia hanya berdiam diri di rumah, kemudian pergi ke luar jika ada perlu

"List terakhir, bertemu dengan ... Ayah" terdengar putus asa dengan kalimat terakhir yang ia lontarkan. Kemudian Reina beranjak dari meja belajarnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur.

Ia membayangkan, seperti apa wajah ayahnya, bagaimana perawakannya, bagaimana rasanya mendapat kasih sayang dari sosok ayah. Tak terasa air mata Reina  pun mengalir. 

Memang sejak Reina dilahirkan, ia tak pernah tahu seperti apa sosok ayahnya. Ayah Reina menghilang entah kemana. Tidak pernah memberi kabar apapun. Ibunya pernah berkata, bahwa Reina sangat mirip dengan ayahnya. Itu cukup menghibur Reina, sungguh. Setidaknya ia tidak perlu terus bersedih, karena merindukan sosok ayah yang bahkan belum pernah dilihatnya.

•••

"Kita membutuhkan anakmu. Kau harus membawa anakmu ke tempat ini. Karena jika tidak, tatanan kehidupan akan kacau balau. Lihatlah kondisi bumi, sudah seperti planet mati. Waktu kita juga tak banyak" Edward—Raja Agung di negeri Muayea terus saja mengoceh kepada Dylan, raja wilayah barat.

"Tapi Raja Agung, anakku hanya seorang manusia. Tidak mungkin ia dapat bertahan hidup di dunia kita" ujar Dylan dengan nada sedikit memohon.

"Dia anakmu, tentu saja ia mewarisi darah Apollo" tegas Edward.

Ternyata, kekacauan yang selama ini terjadi di bumi, berasal dari Negeri Muayea. Negeri Muayea sendiri adalah negeri di dimensi lain, dan tidak bisa didatangi sembarang orang. Hanya orang-orang dengan kemampuan khusus yang bisa mengunjungi Negeri Muayea. Di negeri ini, berbagai kehidupan telah berlangsung. Penyihir, Siren, Peri, bahkan goblin ada di Muayea.

Namun, tiba-tiba saja terjadi kekacauan di Muayea, yang berdampak kepada seluruh alam semesta, termasuk bumi. Terra, jantung kehidupan bagi Muayea dan alam semesta lainnya telah berhenti berputar. Hal itu disebabkan oleh salah satu penyihir yang ada di sana. Penyihir itu berkhianat dan mengutuk Terra dengan Black Magic, sehingga tidak dapat berputar kembali. Meskipun penyihir itu sudah dimusnahkan, namun kutukannya tidak bisa hilang begitu saja. Dibutuhkan air mata dari keturunan ke-115 dewa Apollo, serta nyanyian yang harus dinyanyikan bersama dengan keturunan ke-114. 

Keturunan ke-114 dewa Apollo adalah Dylan. Sedangkan keturunan ke-115 adalah anak dari Dylan, yang tidak lain ialah Reina.

•••

"Apa kau serius, Dylan? Setelah sekian lama tidak memberi kabar kepadaku, bahkan kepada Reina anak kita, kau ingin membawanya ke negeri mu?" Ibu Reina, Lea sedang berbicara bersama Dylan melalui cermin ajaib yang diberikan Dylan ketika mereka masih bersama.

"Dengarkan aku, Lea. Ini demi kelangsungan hidupmu, seluruh makhluk hidup di alam semesta. Apa kau tidak menderita setelah sekian lama tidak mendapat sinar matahari? Tidak dapat memakan tumbuh-tumbuhan yang segar? Aku berjanji akan mengembalikan Reina kepadamu." Dylan terus memohon kepada Lea.

Lea menarik napas perlahan, memikirkan tentang ucapan Dylan.

"Aku akan segera ke sana, tunggulah" ucap Dylan, kemudian cermin itu kembali seperti cermin pada umumnya.

Lea yang tidak siap untuk mempertemukan anaknya dengan sang suami, merasa kebingungan.

Di luar sana, tampak sebuah pusaran hitam di awan. Orang-orang yang melihat kejadian itu segera berlarian menyelamatkan diri, karena mereka pikir itu adalah sebuah bahaya. Sementara Lea, mengajak Reina untuk menghampiri pusaran itu.

"Aku tak mau, Bu! Pusaran itu terlihat berbahaya! Apa Ibu ingin membunuhku?!" Reina berteriak karena ia sangat ketakutan.

"Tenanglah, Reina. Pusaran itu tidak berbahaya, kau akan bertemu dengan sosok yang selama ini ingin kau lihat." Lea mencoba menenangkan Reina.

"Maksudnya ... A-ayah?" Reina bertanya dengan nada penasaran. Lea mengangguk untuk mengiyakan.

Pusaran itu kian mendekat ke arah Reina dan Lea berada. Di dalam pusaran itu sendiri terlihat pasukan berkuda yang dipimpin oleh Dylan.

Dylan pun turun dari kuda terbang—pegasus yang ditumpanginya, kemudian menghampiri Lea dan Reina.

"Berjanjilah kau akan mengembalikan Reina kepadaku" ujar Lea. Dylan mengangguk dan tersenyum bangga.

"Reina, ikutlah bersamanya. Kau akan menyelamatkan kehidupan di dunia ini." Lea mengucapkan kalimat itu sembari memeluk Reina, dan menangis.

"Apakah aku bermimpi, Bu? Bagaimana bisa ada pegasus di dunia ini? Bukankah itu hanya dongeng? Aku tidak mengerti dengan semua ini." Reina masih kebingungan.

"Kau sudah melihatnya sendiri, kan? Pegasus itu nyata. Ayo ikut dengan Ayah, Reina" ujar Dylan.

"Kau ... ayahku?" tanya Reina. Dylan hanya mengangguk.

Merasa bingung dan tak percaya dengan semua itu, Reina menangis lalu menghampiri Dylan dan memeluknya. Lea yang melihat kejadian itu juga ikut menangis, lalu memeluk Dylan juga. Sebuah keluarga yang sudah lama tidak dipertemukan, kemudian bertemu dalam keadaan yang cukup genting, memang lah mengharukan.

"Baiklah. Bersedihnya cukup sampai di sini. Ayo, Reina, kita bergegas. Sebelum waktu kita habis" ujar Dylan.

"Aku akan dibawa kemana, Bu? Aku masih ragu" tanya Reina kepada ibunya.

"Kau akan pergi ke negeri yang selama ini kau anggap dongeng, bersenang-senanglah," jawab Reina diiringi dengan senyuman. Lea juga memeluk Reina dengan erat, dibalas dengan pelukan erat dari Reina.

"Berjanjilah kau akan kembali" ujar Lea.

"Iya, Bu. Aku akan kembali" jawab Reina diakhiri dengan senyuman. 

Reina menaiki kereta kuda ayahnya, kemudian melambaikan tangan kepada ibunya. Lea membalas lambaian tangan itu.

••• 

Reina dan Dylan telah tiba di Muayea. Sepanjang perjalanan, Dylan bercerita tentang sosok dirinya yang sebenarnya, tentang yang sudah terjadi di bumi, tentang Muayea, dan alasan dia meninggalkan Reina. Tampaknya Reina sudah memahaminya.

Dylan mengajak Reina untuk memasuki istana yang sangat megah. Reina takjub dengan apa yang ia lihat. Ia masih menganggap bahwa itu hanyalah mimpi.

Kemudian mereka disambut oleh para penghuni istana.

"Selamat datang, penyelamat kehidupan" ujar Edward kepada Reina.

"Itu adalah Raja Agung Edward, beri penghormatan kepadanya" titah Dylan kepada Reina. Reina mengangguk kemudian menunduk untuk memberi penghormatan.

"Kalian tidak bisa berlama-lama lagi, bergegaslah ke tempat Terra berada" ucap Edward. Dylan mengangguk.

Mereka telah sampai di tempat Terra berada. Lalu Dylan bertanya kepada Reina.

"Apa kau masih ingat dengan lagu yang selalu ibumu nyanyikan sebelum kau tertidur?"

"Ah, lagu itu. Aku masih mengingatnya, tapi aku tidak bisa tidur begitu mendengar Ibu menyanyikannya. Aku selalu menangis, entah kenapa. Sampai besar pun aku selalu menangis ketika aku menyanyikannya" jawab Reina.

"Kekuatan pada lagu itu sangat kuat," ujar Dylan, "Ayo kita nyanyikan lagu itu".

"Untuk?" tanya Reina.

"Kita akan menghilangkan kutukan pada Terra ini"

"Baiklah" jawab Reina.

Dylan meraih tangan Reina, kemudian memegangnya dengan erat.

Dengan suara merdunya, Reina mulai menyanyikan lagu yang sudah ia dengar sejak kecil, diiringi dengan Dylan. Terdengar begitu menyakitkan nada demi nada di lagu itu, air mata Reina pun mengalir, begitu juga dengan Dylan.

Sedikit demi sedikit, Terra mulai berputar. Memancarkan cahayanya yang selama ini tidak tampak. Cahaya dari Terra itu memberi kembali energi kepada matahari, juga kepada planet lain.

Matahari mulai terlihat kembali di bumi. Orang-orang bepergian ke luar rumah untuk merasakan kembali cahaya matahari yang sudah lama tak mereka rasakan. Lea tersenyum haru mengetahui bahwa anak dan suaminya telah berhasil mengembalikan kehidupan di alam semesta.

Reina dan Dylan mengakhiri lagu itu dengan sebuah pelukan hangat yang sudah lama Reina dambakan. Tak berhentinya ia mengeluarkan air mata.

"Terima kasih, Ayah. Kau sudah membantuku untuk melengkapi whislist yang aku buat" ucap Reina.

"Tidak masalah, Anakku. Maaf juga Ayah baru menemuimu" jawab Dylan.

"Aku mengerti, Ayah." Reina tersenyum.

"Baiklah, aku akan mengantarmu kembali ke bumi. Kau bisa menemuiku kapan saja" ajak Dylan. Reina mengangguk.

•••

1 tahun kemudian

"Ayah, Ibu, Reina pergi sekolah, ya!" ujar Reina.

"Hati-hati di jalan, sayang" jawab Dylan.

Setelah melalu persyaratan dan menunggu persetujuan dari para penghuni Muayea, akhirnya Dylan diizinkan untuk tinggal di bumi. Asal ia tidak lupa dengan pangkatnya sebagai Raja di Muayea bagian barat.

Kini keluarga Reina kembali utuh, dan ia sangat senang dengan hal itu. Terkadang Reina masih tidak percaya dengan semua ini, tapi ia tetap bahagia.

Tamat.

~

Link postingan asli : https://rrramaulana.blogspot.com/2021/01/black-magic.html

Komentar

Postingan Populer